Thursday, December 24, 2009

Melirik Potensi Salak Sidimpuan

Melirik Potensi Salak Sidimpuan
Written by Redaksi Web
Monday, 28 September 2009 09:27
Padangsidimpuan identik dengan sebutan Kota Salak. Maklum, tidak sedikit kebun salak di daerah seluas 114,65 km2 itu. Berkat komoditas salak pula, popularitas daerah yang memisahkan diri dari Kabupaten Tapanuli Selatan sejak 21 Juni 2001, meroket.

Tampilan buahnya cukup menggiurkan, berukuran besar ketimbang salak lainnya dan berkulit hitam ke kuningan. Semburat warna merah menyeruak di daging buahnya. Kondisi itu semakin mengundang hasrat untuk segera mencicipinya. Saat gigitan pertama, kesegaran mencuat di antara paduan rasa asam dan manis dari buah bernama latin Salacca sumatrana ini.

"Itu merupakan ciri khas dari salak Sidempuan," ungkap Arnold Simatupang, seorang staf peneliti buah dari Balai Pengawasan Sertifikasi Benih (BPSB) IV Medan, mengomentari rasa buah salak dari tanah Mandailing itu, beberapa waktu lalu di ruang kerja kawasan Jalan Jenderal Besar Dr AH Nasution Medan.

Dari Arnold pula diperoleh informasi seputar salak Sidimpuan. Ternyata, dari kota itu terdapat beberapa varietas salak yang telah terdaftar dalam buah unggul nasional asal Sumatera Utara. Salak Padangsidimpuan Merah, misalnya, dilepas sebagai varietas unggul berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 763/Kpts/TP.240/6/99 tertanggal 22 Juni 1999. Kemudian, salak Padangsidempuan Putih, dilepas sebagai varietas unggul dengan SK Menteri Pertanian No 764/Kpts/TP.240/6/99 tertanggal 22 Juni 1999, serta salak Sibakua, melalui SK Menteri Pertanian No. 427/Kpts/TP.240/7/2002 tertanggal 3 Juli 2002.

Arnold mengemukakan, salak Padangsidimpuan merah memiliki sejumlah ciri khas, seperti warna daging buah putih semburat merah dengan rasa daging buah kombinasi manis, masam dan sepat. Daging buahnya juga memiliki ketebalan berkisar 0,3-2,0 cm dengan sifat daging buah agak menempel pada biji, serta bertekstur agak lunak, berair dan berserat halus.

Begitu juga dengan salak Padangsidempuan putih yang memiliki daging buah berwarna putih dengan rasa manis, masam dan sepat. Ketebalan daging buah berkisar 0,6 - 2,0 cm dengan sifat daging buah masir/daging buah menempel pada biji, dan tekstur daging buah agak lunak berair. Berbeda dengan salak Sibakua yang berasal dari Desa Sibakua, Kecamatan Padangsidimpuan Barat. Bentuk tanamannya menyerupai payung, dan tertutup rapat oleh pelepah daun. Batangnya merayap di permukaan tanah serta memiliki lebar tajuk berkisar 4-5 meter, dan berbentuk kerucut terbalik.

"Rasanya manis sedikit asam sepat. Jumlah buah pertandan antara 110 sampai 230 buah dengan berat per buah berkisar 50 sampai 150 gram," tukas Arnold, lantas menambahkan, tanaman berbuah sepanjang tahun dengan umur petik optimal enam bulan setelah bunga mekar.

Menurut informasi, lanjutnya, salak Padangsidempuan dibudidayakan sejak tahun 1930 di Desa Sibakua dan Hutalambung. Masyarakat di daerah setempat yakin, salak ini dapat menambah nafsu makan. Arnold menyatakan, salak tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 500 m dia atas permukaan laut (dpl) dengan tipe iklim basah yang memiliki tingkat keasaman tanah (pH) 5-7, curah hujan 1500-3000 mm per tahun dengan musim kering antara 4-6 bulan. "Salak suka ditanam di tempat teduh, biasanya di bawah pohon durian atau duku. Tanaman mulai berbuah pada usia tiga tahun," ujarnya.

Ia mengaku, tanaman salak memiliki prospek cerah karena diminati masyarakat. Di pasaran Kota Medan, saat ini harga salak Sidempuan berkisar Rp 8.000 hingga Rp 12.000 per kilogram. Harga itu cukup menjanjikan mengingat budidayanya relatif mudah. Betapa tidak, salak bisa panen selama beberapa kali sepanjang tahun, yakni panen raya terjadi pada Nopember-Desember-Januari, panen sedang pada Mei-Juni-Juli, serta panen kecil pada Februari-Maret-April.

"Perawatannya juga relatif mudah, yang penting jaga kebersihan kebun dan rajin membuang tunas anakan yang muncul," papar Arnold.

Lebih lanjut dikemukakannya, sinar matahari juga harus dijaga agar bisa masuk ke kebun salak melalui pemangkasan pelepah daun. Selain itu, kata Arnold, jangan ragu untuk membuang buah salak yang tumbuh rapat di setiap tandannya agar bisa tumbuh besar dan merata. "Lakukan penjarangan agar buah salak bisa besar dan merata di setiap tandan," tukasnya.

Arnold juga mengingatkan ancaman serangan hama dan penyakit pada tanaman salak. Umumnya, hama kutu wol (putih) atau Cerataphis sp. di sela-sela buah, kumbang, tupai dan tikus, menjadi momok bagi tanaman salak. Namun, beragam pestisida dan insektisida yang ada di pasaran mampu mengatasi hama tersebut. Sedangkan penyakit yang kerap menyerang tanaman salak adalah noda hitam di daun akibat cendawan Pestalotia sp.

"Pihak BPSB IV Medan siap memberikan informasi seputar budidaya tanaman salak dan tanaman buah lainnya," sebut Arnold, mengakhir perbincangan.
ferry | GLOBAL | medan
Sumber:
http://www.harian-global.com/index.php?option=com_content&view=article&id=19135:melirik-potensi-salak-sidimpuan&catid=27:bisnis&Itemid=59

Singapura dan Cina, Potensi Tujuan Ekspor Salak Nglumut

11 Desember 2009 | 10:30 wib | Daerah
Singapura dan Cina, Potensi Tujuan Ekspor Salak Nglumut
Magelang, CyberNews. Peluang ekspor salak Nglumut ke manca negara terbuka lebar. Jika kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik Indonesia bisa menjadi pengekspor nomer satu dunia. Hal ini dikemukakan Ketua Umum AESBI (Asosiasi Eksportir Sayur dan Buah Indonesia) Hasan Wijaya, Jumat (11/12).
"Salak Nglumut sangat prospektif. Saya yakin salak Nglumut bisa menembus pasar dunia," kata Hasan Wijaya.
Dijelaskan, untuk pasar buah Singapura saja dalam setahun paling tidak dibutuhkan 1000 ton buah berbagai jenis. Namun sejauh ini salak masih belum banyak masuk ke pasar Singapura.
"Tidak heran jika dari kebutuhan 1.000 ton buah segar di Singapura, Indonesia hanya menyumbang 6 persennya saja yakni 60 ton buah. Padahal sebagai negara agraris dan kaya akan tanaman hortikultura Indonesia harusnya bisa memaksimalkan potensi ini," ujar Hasan.
Syaratnya, lanjut Hasan, para eksportir buah Indonesia mau melakukan edukasi ke pasar singapura. Hal ini karena ada banyak penduduk Singapura yang ternyata belum tahu cara memakan salak. Apalagi tahun depan Singapura akan membuka 2 pusat kasino besar. Pembangunan 2 kasino ini diperkirakan akan meningkatkan kunjungan wisatawan ke negeri Kepala Singa ini.
Tak hanya itu, menurut Hasan, peluang ekspor salak Nglumut ke China juga terbuka lebar. Hal ini karena penduduk China mencapai 1,2 milyar orang. Namun, jelas Hasan Wijaya, pemerintah China mesnyaratkan adanya registrasi kebun buah salak untuk masuk ke pasar buah mereka. Karena itu, para petani salak Nglumut diminta segera melakukan pendataan dan registrasi kebun salak mereka.
"Registrasi ini meliputi jenis bibit yang ditanam, pengolahan tanah, pupuk yang digunakan, dan pemeliharaan. Syarat ini memang jlimet tetapi semua ini demi kebaikan petani salak juga," jelas Kepala Bidang Sumberdaya dan Pengelolaan Hasil Distanbunhut Kabupaten Magelang, Bambang Purwanto.
( MH Habib Shaleh / CN16 )
Sumber:
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2009/12/11/41810/Singapura-dan-Cina-Potensi-Tujuan-Ekspor-Salak-Nglumut-

China Gemari Salak Organik Sleman

Jumat, 12 Juni 2009 18:56 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis | Dibaca 917 kali
Jakarta (ANTARA) - Sebanyak 200 ton buah salak organik produksi kelompok tani Sleman, Yogyakarta, diekspor ke China dalam satu tahun terakhir.

"Ekspor berlangsung rutin tiap minggu rata-rata empat ton, satu tahun terakhir sampai 50 kali ekspor," kata Al Maryono, Manajer Kelompok Tani Tawangrejo Asri Sleman di Arena Pekan Raya Jakarta, Jumat.

Pembeli China sangat menyukai salak pondoh Sleman karena selain bebas bahan kimia dari pupuk maupun pestisida, juga rasanya manis dan tidak kesat.

China sebenarnya meminta dikirim 20 ton per minggu, tetapi yang bisa dipenuhi Sleman hanya empat ton karena produksi petani belum mencukupi, kata Maryono.

Joko Gambiro, teknisi pengolahan pupuk organik petani Sleman, mengatakan, untuk menghasilkan salak organik, sebelum ditanami lahan pertanian mesti dinetralkan selama tiga tahun dengan tidak digunakan untuk bercocok tanam.

"Setelah dirasa tanah sudah terbebas dari kandungan kimia, baru dilakukan penanaman buah salak, hingga kini sudah mampu dikembangkan pada areal seluas 12 hektar," kata Joko.

Joko mengatakan, guna memenuhi tingginya permintaan pasar China, maka petani Sleman meminta pemerintah membantu perluasan areal pertanian.

"Target kita, Sleman menjadi penghasil buah salak organik nasional, untuk mewujudkankannya maka minta pemerintah ikut membantu permodalan petani," kata Joko.

Buah salak produksi petani Sleman terdiri dari empat jenis kualitas, Prima 1, Prima 2, Prima 2 dan yang saat ini sedang dalam pengembangan Salak Pondoh Organik.

"Salak pondoh organik selain sudah 100 persen gunakan pupuk dan pestisida organik, juga sudah memenuhi standar dari sisi lingkungan atau dikenal ramah lingkungan," kata Joko.

Kabupaten Sleman oleh Pemerintah DIY ditetapkan menjadi daerah sentra pengembangan salak organik.

Sumber:
http://www.antaranews.com/view/?i=1244807801&c=EKB&s=BIS

Buah Salak Indonesia Dipasarkan Sebagai Salak Thailand

Kamis, 30 April 2009 19:09 WIB | Ekonomi & Bisnis | Bisnis | Dibaca 410 kali
Jakarta (ANTARA News) - Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan temuan banyaknya salak Indonesia yang dipasarkan sebagai salak Thailand ke China sehingga merugikan citra produk buah-buahan Indonesia.

Dirjen Hortikultura Deptan, Ahmad Dimyati di Jakarta, Kamis menyatakan, importir asal Thailand mengambil salak Indonesia terutama salak pondoh kemudian mengganti label kemasan sebagai produk negara tersebut sebelum di ekspor ke China.

"Ini merupakan usaha untuk menurunkan salak Indonesia di pasar internasional dan ini tak bisa dibiarkan," katanya.

Menurut dia, importir yang mendatangkan salak Indonesia ke Thailand tersebut umumnya tidak terdaftar atau kemungkinan mereka bekerjasama dengan eksportir dalam negeri yang juga tidak teregistrasi.

Oleh karena itu, lanjutnya, pihaknya akan meminta kepada Departemen Perdagangan agar melakukan registrasi terhadap eksportir produk hortikultura untuk mengantisipasi khasus tersebut.

Dengan adanya registrasi tersebut, menurut Ahmad Dimyati, maka hanya eksportir terdaftar yang nantinya bisa melakukan ekspor.

"Kalau tidak demikian nantinya eksportir kita yang sudah bersusah payah membuka pasar dunia justru akan tertutup jalannya hingga akhirnya mati. Padahal susah untuk membuka pasar baru lagi," katanya.

Dirjen mengungkapkan, selain buah salak, produk hortikultura Indonesia lainnya yang diakui Thailand yakni manggis.

Selain melakukan meminta Depdag menerapkan registrasi bagi eksportir maupun importir buah-buahan, lanjutnya, pihaknya juga menghimbau petani untuk hanya melakukan kerjasama dengan eksportir dan importir yang sudah terdaftar, memiliki packing house serta infrastruktur.

"Ke depan harus ada payung hukum untuk ini sehingga tidak hanya berupa himbauan," katanya.

Pada kesempatan itu Dirjen juga menyatakan bahwa dari inspeksi tim ahli asal Belanda didapati salak Sleman sudah mendekati penerapan Global Good Agriculture Practice (GAP) atau praktek budidaya yang baik.

"Dengan terpenuhinya standar Global GAP maka jika ingin memasarkan produk ke negara-negara yang menerapkan standar tersebut akan lebih mudah masuknya," katanya.(*)

Sumber:
http://www.antara.co.id/view/?i=1241093348&c=EKB&s=BIS




Thursday, October 01, 2009

Karena Salak ke-5 Putrinya jadi Sarjana

Salak di Desa Salak

Karena Salak ke-5 Putrinya jadi Sarjana

Selasa, 1 September 2009, 16:57
Buah yang memiliki kulit dan bentuk yang khas serta memiliki duri pada pohonnya, telah lama dibudidayakan oleh H. Mukojien (60 tahun) di Dusun Salak Desa Semboro Lor Kecamatan Tanggul Kabupaten Jember. Berawal dari lahan salak yang merupakan turun temurun dari keluarga Mukojien, yang berarti umur salak lebih tua dari umur H. Mukojien. Faktor keturunan inilah yang mendukung Mukojien untuk melestarikan budidaya salak yang telah ditekuni keluarganya sejak lama. Bermodalkan ilmu keturunan, Mukojien mampu memperluas lahan yang semula hanya beberapa petak saja, hingga sekarang menjadi berkembang pesat.
Sifat tekun dan ulet yang diwariskan keluarganya membuat H. Mukojien mencoba untuk mengembangkan atau menumbuhkan Salak Pondoh yang merupakan hal yang baru di Dusun Salak, karena hanya H. Mukojien yang mencoba untuk menanam salak pondoh. Tahun 2006, Mukojien membeli bibit yang berjumlah 400 yang didatangkan langsung dari Jogjakarta, membuat H. Mukojien menjadi petani pertama yang mampu menumbuhkan Salak Pondoh di Dusun Salak dan menjadi petani salak tersukses. Bibit yang dibelinya dari Jogjakarta, oleh Mukojien diteliti dan dipelajari bagaimana proses menumbuhkan dan membudidayakan, karena menurutnya Salak Pondoh sangat susah untuk ditumbuhkan di Dusun Salak. Bibit yang dibelinya dari Jogjakarta sebanyak 400 dengan harga Rp3.750 per bibit, kini menjadi 700 pohon salak pondoh yang produktif.
Pohon Salak Pondoh milik Mukojien, berbunga hingga 6 sampai 8 bunga per pohonnya, adapun 1 bunga dapat berkembang menjadi buah salak pondoh dengan bobot 4,5 kg. Proses pengawinannya dilakukan secara manual oleh Mukojien, karena di Dusun Salak, serangga khususnya lebah yang membantu proses penyerbukan susah untuk di dapatkan.
Menurut H. Mukojien, budidaya salak sangat mudah, karena tidak membutuhkan biaya yang banyak dan perawatan yang ekstra. Modal awal hanya digunakan untuk membeli bibit saja, selanjutnya hanya menanam pada lahan sawah tanpa adanya pemberiaan pupuk hingga pohon Salak Pondoh berbuah. Perawatan hanya dilakukan dengan cara menyiram air, karena menurut Mukojien, air dapat mempengaruhi besar kecilnya buah salak pondoh yang dihasilkan.
H. Mukojien membandingkan Salak Pondoh miliknya dengan cara melakukan perkawinan dan tanpa melakukan perkawinan, ternyata hasilnya berbeda. Salak pondoh yang dilakukan dengan cara perkawinan dapat menghasilkan Rp8 juta hingga Rp9 juta pada lahan yang dimiliki oleh Mukojien.
Jika tanpa adanya perkawinan, dapat menghasilkan Rp7 juta dari lahan yang dimiliki. Penjualan hasil Salak Pondoh milik Mukojien, langsung dijual oleh Mukojien pada tengkulak dengan harga Rp2000 per kg, tetapi Mukojien juga menjual langsung pada konsumen dengan harga Rp5000 per kg. Usaha budidaya salak yang ditekuni Mukojien, dapat membantu kehidupan perekonomiannya sehingga H. Mukojien mampu memfasilitasi ke- 5 putirnya hingga semua menjadi sarjana.
Profil H. Mukojien
Dusun Salak, Desa Semoro Lor
Kec. Tanggul Kab. Jember
(0336) 443 150
  
 
Sumber:
http://bangkittani.com/kiat-sukses/salak-di-desa-salak/